Selasa, 17 November 2009

BRIMOB; Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil


Atang Setiawan

Pada setiap tanggal 14 November adalah HUT Brimob, saat yang tepat untuk mengkaji dan menggali kembali, mengantisipasi berbagai tantangan reformasi dan paradigma baru Polri. Memasuki era reformasi, Polri memang telah banyak mengalami kemajuan secara moril maupun fisik dan terus menata sistem organisasinya. Ini dilakukan Polri mengacu kesepakatan internasional dalam membangun masyarakat madani yang berdisiplin, negara harus memiliki sistem dan organisasi kepolisian yang kuat. Selain polisi yang kuat, setidaknya ada alasan untuk mengkaji hal ini. Era globalisasi membuat dunia hanya bagaikan sebuah desa besar. Batas teritorial antarnegara nyaris tak ada, yang ada tinggal batas dalam definisi hukum, menjadikan sebuah negara mencampuri atau tidak mencampurui urusan negara lain sudah sangat sulit dibedakan. Globalisasi telah memacu peningkatan tuntutan masyarakat terhadap kinerja kepolisian, sementara kejahatan terus pasang naik baik yang konvensional maupun berdimensi baru. Pekerjaan kepolisian langsung menangani masalah-masalah masyarakat semakin rumit, menuntut Polri bukan hanya sebagai law enforcement officer dan crime hunter melainkan juga sebagai social maintainance officer dan social problem solver.
Dari berbagai ancaman tersebut kita melihat eskalasi gangguan kamtibmas yang berintensitas tinggi terus meningkat menuntut peran Brimob terus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Sebagaimana diketahui, Brimob merupakan pasukan khusus Polri yang juga dimiliki oleh kepolisian di seluruh dunia yang dibentuk untuk menghadapi gangguan kamtibmas berintensitas tinggi, maka Brimob memiliki kemampuan sangat spesifik seperti antiteror, huru-hara, antibom dan bahan peledak lainnya. Setiap prajurit Polri terutama Brimob selain menguasai hukum juga kemampuan intelektual.
Dari berbagai proses perubahan ketatanegaraan dan legal formalnya, hingga terbitnya UU Pokok Kepolisian No. 13/1961 yang mempertegas posisi Polri sebagai salah satu unsur ABRI. Perubahan tersebut mendorong internalisasi nilai militeristik dalam tubuh dan struktur Polri. Hal ini jelas mengubah perwajahan Polri dari sipil ke militer, dengan berbagai atribut yang dikenakannya. Permasalahan yang kemudian muncul adalah, bahwa Polri merupakan institusi sipil yang harus mencitrakan dirinya sebagai bagian dari sipil dalam operasionalnya.
Namun setelah Polri disatukan dengan TNI dengan nama ABRI, warna militeristik makin kental, bukan hanya terbatas pada satuan Brimob saja, melainkan menjadi bagian dari kultur di Polri. Bahkan hal tersebut makin menguatkan kultur militeristik yang meresap di satuan Brimob. Perubahan ini sangat mempengaruhi kinerja Polri, dan Brimob pada khususnya dalam mengoperasionalkan peran dan fungsinya sebagai alat keamanan negara sebagai upaya mendorong agar proses demokrasi sebagai bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkan Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri) yang kondusif.
Polisi Sipil selain sebagai paradigma juga merupakan tujuan dari reformasi itu sendiri. Karena itu, pada dasarnya perubahan-perubahan yang dilaksanakan tidak dapat dilaksanakan secara parsial tetapi secara simultan, sehingga akan menghasilkan sinergi yang menjadi percepatan dalam mencapai tujuan yaitu terwujudnya Polisi Sipil. Beberapa parameter yang menjadi indikator Polisi Sipil, yakni: profesional dan proposional, demokrasi, menjunjung tinggi HAM, transparansi, akuntabilitas, supremasi hukum, dan sikap protagonis. Karenannya perubahan struktural harus diikuti dengan perubahan instrumental dan kultural. Muara dari permasalahan struktural dan instrumental adalah permasalahan kultural. Permasalahan kultural ini secara garis besar terkait dengan internalisasi kultur polisi sipil dalam implementasi operasionalnya. Pencitraan Brimob yang baik terletak pada sejauhmana permasalahan tersebut dapat diminimalisir, dalam pengertian lebih mengedepankan pada sejauhmana internalisasi nilai-nilai polisi sipil dapat diterapkan di Brimob Polri.
Jadi sesungguhnya sudah sangat jelas bahwa Brimob Polri mencoba mempertegas jati dirinya sebagai bagian integral dari Polri sebagai upaya untuk mendorong terciptanya tata pemerintahan yang baik. Karena itu, peningkatan kualitas kinerja kepolisian mutlak harus dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan, dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh seluruh jajaran anggota Polri.
Sebagai bagian dari Polri, Brimob merupakan salah satu satuan khusus yang menjadi andalan Polri dalam berbagai peran dan fungsinya. Brimob menjelma menjadi satuan yang paling handal, khususnya dalam mengamankan daerah-daerah sarat konflik, seperti Poso, Aceh, Ambon, Papua, dan wilayah rawan konflik lainnya. Masyarakat menaruh harapan besar kepada Brimob untuk dapat mewujudkan dan memelihara Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri). Apalagi keterampilan yang dimiliki Brimob Polri merupakan kunci bagi terwujudnya harapan masyarakat tersebut. Sebagaimana diketahui selain memiliki kemampuan dasar kepolisian, Brimob Polri juga memiliki keterampilan guna mencegah setiap upaya untuk mengganggu terpeliharanya Kamdagri, adapun kemampuan dan keterampilan anggota Brimob Polri adalah: Kemampuan Pengendalian Huru-hara (PHH), kemampuan Reserse Mobil (Resmob), kemampuan menjinakkan bom (Jibom), dan kemampuan melawan terorisme (Wanteror), serta kemampuan Search and Rescue (SAR).
Sedangkan yang perlu ditegaskan juga adalah Brimob memiliki prinsip-prinsip operasional dalam menjalankan berbagai tugas yang diembannya, adapun prinsipi-prinsip tersebut antara lain: pendekatan sosial budaya, preemtif, preventif, penegakan hukum, optimalisasi, serta optimalisasi kesatuan. Prinsip-prinsip tersebut merupakan bagian yang harus diimplementasikan dalam berbagai operasi yang dijalankan oleh Brimob. Kemampuan Brimob dalam menjalankan peran dan fungsinya makin ditegaskan dengan berbagai prestasi yang berkaitan dengan ancaman keamanan tingkat tinggi.
Harus pula diakui bahwa dengan berbagai keterbatasan anggaran dan prasarana, Brimob telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi penegakan hukum dan terselenggaranya Keamanan Dalam Negeri. Meski keluhan dan kecaman yang datang dari masyarakat karena pola pendekatan yang kurang simpatik, sehingga mengakibatkan terjadinya bentrok dengan masyarakat. Kondisi tersebut tentu saja tidak menyurutkan langkah Brimob dalam meneruskan kiprahnya sebagai kesatuan khusus yang dimiliki Polri untuk terus mengupayakan Keamanan Dalam Negeri yang kondusif. Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil. Selamat ulang tahun, Brimob.

Tidak ada komentar: